Kamis, 05 November 2015

Allah Maha Tahu

Setiap pasangan yang sudah menikah tentunya mendambakan memiliki keturunan. Saya yang pada saat itu masih sibuk mengurusi skripsi dan berniat menunda memiliki momongan, tiba-tiba punya hasrat yang kuat untuk punya baby (saya suka banget sama anak-anak dan sering banget dipercaya ngurus anak orang hehe). Alhamdulillah, tanpa menunggu waktu lama, beberapa bulan setelah saya menikah, saya dinyatakan positif hamil oleh alat testpack :p.

Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan badan saya. Setiap pagi kok rasanya badan ini berat banget untuk bangkit dari tempat tidur. Belum lagi rasa ngantuk dan males yang berkepanjangan hampir setiap hari. Jangan jangan.... ya jangan jangan....! Ngga berani menyimpulkan sendiri akhirnya saya curhat ke mama dan kakak saya. Mereka menyarankan saya untuk test kehamilan. JENG JENG WHAT?? Jujur saya panik, bingung, dan galau. Antara siap dan ngga siap menerima kenyataan kalau saya berbadan dua. Tiba-tiba semua rutinitas yang masih harus saya jalani berseliweran di kepala. Gimana saya harus nyeleseiin skripsi, gimana saya harus mobile Cikarang-Depok-Bogor untuk bimbingan dan penelitian, dan huaaahh suami saya udah beli tiket pulang kampung ke Medan untuk saya dan keluarga saya. Terus kalau hamil apa boleh naik pesawat???

Gamau memendam kegelisahan sendiri finally saya curhat ke suami mengenai hal ini. Suami saya langsung beli 2 testpack sekaligus. Sumpah malem itu bener-bener ngga bisa tidur karena pengen cepet pagi dan test urine (testpack disarankan pada pagi hari karena kadar HCG nya bisa terdeteksi secara akurat). Nah begitu pagi, saya langsung bangun dari tempat tidur, test, bangunin suami, suami bangun, langsung ikutan deg-degan liat hasilnya, nunggu beberapa menit, daaaaannnn dua strip merah...daaaaannn kita saling pandang-pandangan. Benar-benar hasilnya positif. Suami nanya, "kamu hamil?". Ya saya bilang "kayanya iya". Suami langsung bilang "oke kita ke dokter".

Setelah nyari tahu dokter bagus di daerah Cikarang akhirnya kami datanglah ke salah satu rumah sakit. Lagi-lagi saya deg-degan setengah mati, tapi suami berusaha menenangkan. Ketika perawat memanggil nama saya akhirnya saya masuk. Ditanya sudah telat berapa lama dan saya langsung disuruh baring di tempat tidur untuk USG. Dokter memutar alat USG nya dan saya lihat ada kantung di rahim saya. "Selamat ya Bapak, ibu, kandungan sudah berusia 2 minggu". Kami pun langsung bertanya ini itu termasuk pada usia kandungan ke berapa boleh naik pesawat. Dokter bilang amannya setelah lewat trismester pertama karena kondisi janin udah mulai kuat, namun sebelum masuk trismester akhir. Berarti sekitar usia 16 mingguan. Kami hitung-hitung.. OOoo rencana kami ke Medan sebelum usia kandungan saya 16 minggu. Galau....

Suami dan saya terus berdoa semoga semua acara kami lancar, aktivitas saya di kampus juga lancar, saya sehat dede janin juga sehat, pokonya berdoa yang bagus dan ideal. Saya pun tetap menjalani rutinitas ke Depok naik turun bus, pulang sore, puasa (saat itu sedang bulan Ramadhan). Alhamdulillah saya kuat-kuat aja, malah bisa dibilang kuat banget untuk ukuran ibu hamil. Tapi di situ saya merasa aneh.

Pada pemeriksaan berikutnya yaitu usia 7 minggu lebih kalau ngga salah, saya deg-degan takut ada apa-apa, karena saya merasa ada yang aneh. Saya cerita ke suami "bang, aku kok kuat banget ya jalani aktivitas lagi hamil gini. Kata orang-orang kalau trismester pertama kan lagi mabok-maboknya, ko aku ngga ya?" Suami bilang ngga apa-apa kan kondisi setiap orang beda. Hmmm bener juga sih. Akhirnya nama saya dipanggil dan saya masuk ruangan. Dokter langsung nyuruh saya berbaring dan di USG. Dokter mengelus dan memutar alat USG di perut saya, raut mukanya pun berubah, seperti mencari sesuatu tapi yang dicari ngga ketemu-ketemu. Raut wajah suami saya pun berubah tegang. Dokter pun meminta izin untuk memasukkan alat lewat maaf (miss V) supaya bisa keliatan dengan jelas. Saya disuruh menarik nafas panjang dan rileks. Rasanya dimasukkan alat seperti itu nyeri-nyeri gimana gitu. Setelah selesai diperiksa saya dan suami disuruh duduk. Dokter menjelaskan dengan sangat hati-hati kalau ternyata kehamilan saya kosong alias Blighted Ovum (BO). Blighted Ovum adalah kehamilan tanpa embrio yang sampai saat ini belum jelas apa penyebabnya. Janin tidak berkembang secara sempurna namun kantungnya tetap berkembang seperti wanita hamil pada umumnya. Pokonya wanita dengan kehamilan BO memiliki tanda-tanda kehamilan yang sama seperti wanita hamil pada umumnya. Dokter menyarankan untuk kuret di RS dan mengatakan kepada kami untuk berpikir baik-baik dulu. Kami pun pulang dengan rasa sedih dan bingung yang luarbiasa. Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti saran dokter. Keesokan harinya saya ke RS untuk melakukan proses peluruhan kandungan.

Prosesnya lumayan panjang. Jadi saya disuruh minum obat dan juga ada obat yang dimasukkan lewat miss V supaya menempel di dinding rahim. Saya tanya reaksi obatnya seperti apa, perawat bilang kalau saya mulas tandanya janin mau keluar. Saya masuk RS pagi-pagi dan sampai siang belum juga ada tanda mulas. Perawat kembali memberi obat yang sama, barulah beberapa jam kemudian saya merasa mulas. Perawat bilang kalau ke kamar mandi jangan buang air di WC takutnya kalau janin keluar ngga bisa diambil untuk diobservasi. Tapi saya rasa mulasnya luar biasa seperti mau pup. Saya ke WC aja sih dan memang bukan janin yang keluar. masih belum keluar juga akhirnya saya dikasih obat lagi (kalau ngga salah ya), terus karena saya bosan di kamar saya pun ikut suami jalan keluar kamar. Nah barulah di situ saya merasa nyeri di perut seperti ada yang menekan-nekan ke arah missV, seperti nyeri haid dan saya merasa ada darah yang keluar seperti haid. Buru-buru saya bilang ke suami dan kami balik ke kamar dan menelepon suster. Sakitnya sakit banget, nyeri banget, suster mengantar saya kekamar mandi, dan beberapa menit kemudian janin itupun keluar. Saya dibantu suster bersih-bersih dan suster langsung menghubungi dokter untuk proses kuret.

Saya mau nangis ketika dibilang harus dikuret supaya rahim bersih dan kembali steril. Jujur saya paling takut disuntik. Yang paling menyebalkan adalah saya dua kali disuntik karena posisi ngambil darah yang salah, terus diinfus pula, entah bidan atau perawat yang ngurusnya jutek, pas persiapan alat operasi monitor ngga nyala, heeeuuuhh terus mba itu nanya ke suami "ibunya tadi puasa kan?". HAAAH puasa apa?? Kami ngga tau kalau mau operasi gitu harus puasa dulu. Yaudah kami cuma bisa pasrah..ngga lama dokter anastesi dateng menyuntikkan biusnya dan saya pun ngga sadarkan diri. Saya baru bangun setelah pipi ditepok-tepok dokter kandungan saya, mata saya berat banget dan kepala hoyong. Alhamdulillah operasinya lancar.

Pemeriksaan selanjutnya dokter bilang rahim sudah steril tapi harus dijaga dan kosong dulu selama 3 bulan untuk recovery. Huuffftt pengalaman yang mengerikan dan melelahkan buat kami. Tapi semua ini memanh ada hikmahnya. Allah tahu kami belum memiliki persiapan yang kuat untuk menjaga anak kami. Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Well,,, musibah ini ngga menggagalkan agenda kami pulang kampung. Seperti obat penghilang duka kami pun langsunh menyiapkan dua trip sekaligus. Pertama ke Medan bareng keluarga, kedua kami membeli tiket honeymoon ke Bali. Haloooo kami siap menyongsong hari esok dengan kembali semangat dan ceria :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar